Dia Adalah Dilan-ku Tahun 1990

Aku tuh jarang banget baca buku novel Indonesia, karena menurutku bahasanya terlalu kaku dan alur ceritanya sangat klise. Sebagai aspiring writer, memang aku belum bisa menulis sebuah buku karya-ku sendiri, makanya, aku hanya ingin berkomentar terhadap tulisan orang lain. Biarpun orang yang ku komentari itu akan berkata, ‘jangan asal ngomong, coba aja tulis sendiri, pasti kagak bisa.’ Trus dalam hati aku juga akan jawab, ‘ya emang ga bisa, makanya aku komentarin.’ Tapi mungkin jika suatu saat aku akan menuliskan sebuah karya yang akan dipublikasikan dan dibaca banyak orang, mungkin karyaku juga akan kaku dan klise dan bahkan mungkin mainstream. Tapi itulah hidup, those who can do, those who can not talk ;p.

Ngomong-ngomong, aku baru aja selesai baca buku Dilan 1990. Awalnya pas liat buku itu terpampang di toko-toko buku, aku sedikitpun tidak tertarik untuk menyentuhnya. Ketika lewat di toko buku yang menjajakan buku-buku tersebut, aku hanya meliriknya dengan ujung mataku, entah mata kanan atau kiri, aku lupa. Namun saat nonton film Star Wars the last Jedi, iklannya banyak banget, dan salah satunya adalah trailer film Dilan itu. Yah namanya trailer film, dengan latar soundrack yang dibikin sedemikian rupa dan cuplikan-cuplikan adegan yang tidak berurutan menjadikan sebuah film ‘ingin di tonton’. Dan menurutku, saat melihat trailer itu, wah kayaknya menarik nih..hampir-hampir sama kayak ide cerita yang ingin aku tulis tapi kata-katanya belum bisa ku rangkai. Mungkin aku butuh ide. Jadilah aku bela-belain balik ke toko buku besoknya untuk mencari buku tersebut. Alhamdulillah dapat.

Aku tidak berencana men-sinopsis isi cerita buku tersebut, karena kayaknya pasti udah ada orang yang melakukannya sebelum aku. Aku cuma mau bilang bahwa aku suka banget gaya bahasa penulisannya. Blak-blakkan tapi bikin nagih. Kaku, tapi lucu. cerita remaja yang klise, gadis cantik banyak cowok yang naksir, tapi dirangkai dengan bahasa yang berbeda membuat alur ceritanya jadi menarik dan kamu ga akan naruh tuh buku kalo belum selesai baca, kecuali kamu memang ada urusan lain yang penting atau matamu udah tinggal 1/2 watt dan ga ada batre buat ngisiin. Batre yang sudah kamu jemur dibawah terik matahari berjam-jam sudah tidak mempan lagi. Maklum, itu kan tahun 90an, belum ada power-bank, hp aja belum punya. Ngomong apa sih?

Sebagai aspiring writer, aku sering banget dengar kalimat, write like you talk, tulislah layaknya kamu berbicara. Tuangkan apa yang ada dipikiranmu ke dalam tulisan, ga perlu diedit atau direvisi dulu, yang penting tulis. Trus aku juga mikir, aku tuh bukan orang yang banyak ngomong, gimana mau nulis apa yang aku omongin? Pasti susah kan?

Nah buku si Dilan ini, yang ditulis oleh Pidi baiq, nama pengarangnya aja sampe terngiang-ngiang di kepala, beda banget sama novel-novel yang udah aku baca, ini kayaknya memang sesuatu yang ada dipikiran trus langsung ditulis. Begitu juga percakapan percakapan yang ada dalam cerita, aku berasa kayak lagi ngomong, atau whats-appan dengan teman. Pokoknya berasa sesuatu yang muncul begitu saja tanpa dipikir panjang.

Intinya, aku suka. Udah itu aja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s